RELASIPUBLIK.OR.ID, JEPARA || Sabtu 29 Nopember 2025 Upaya penebusan motor Honda CRF Trail milik Deny Suseja justru berujung insiden kekerasan. Tiga anggota Grib Jaya PAC Mayong yang membantu proses penebusan motor tersebut menjadi korban pengeroyokan oleh sekitar 15 orang di Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Jepara, pada Jumat (28/11/2025) sekitar pukul 13.00 WIB.
Foto: Dua anggota DPC Grib Jaya Jepara yang dirawat inap di RSUD Kartini Jepara. Satu korban lainnya mengalami luka ringan.
Kronologi: Uang Ditranfer, Motor Tak Kembali
Insiden bermula saat Deny Suseja melakukan transaksi penebusan motor Honda CRF Trail miliknya senilai Rp15 juta kepada tiga pemegang motor, yakni Robby, Ade, dan Ridho. Namun tak lama setelah uang ditransfer, ketiganya mendadak tidak bisa dihubungi. Nomor para pemegang motor hilang dari jaringan, menimbulkan kecurigaan.
Melihat kejanggalan tersebut, Deny meminta bantuan tiga anggota Grib Jaya PAC Mayong—Bambang, Ahmad, dan Fais—untuk mengecek titik pertemuan yang telah disepakati. Namun yang mereka dapat bukanlah mediasi, melainkan serangan bertubi-tubi.
Dihajar Begitu Datang
Setibanya di lokasi, ketiga anggota Grib Jaya itu mengaku langsung dihantam tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Belum sempat ngomong apa-apa, langsung dikeroyok,” ungkap Fais, korban yang mengalami luka ringan.
Dua korban lainnya, Bambang dan Ahmad, mengalami luka cukup serius sehingga harus dirawat inap di RSUD Kartini Jepara. Seragam salah satu anggota bahkan robek akibat serangan brutal tersebut.
Fais menyebut mengenali salah satu pelaku bernama Leman, yang diduga seorang depkolektor (DC) asal Kudus. Namun ia mengaku tidak mengetahui alasan keterlibatan DC dalam urusan gadai motor pribadi.
Nomor diduga pelaku mendadak akktif kembali
Sebelum pengeroyokan, sempat muncul kejanggalan lain. Nomor para pemegang motor yang sebelumnya tidak bisa dihubungi, mendadak kembali aktif saat diminta bertemu untuk penyerahan motor. Namun saat anggota Grib datang ke lokasi pertemuan, mereka justru disergap segerombolan pengeroyok.
Pelaku Ikut ke Polsek, Kasus Naik ke Polres
Usai kejadian, para pelaku justru mengikuti korban dan aparat ke Polsek Welahan. Selanjutnya, seluruh pihak diarahkan ke Polres Jepara untuk proses lebih lanjut.
Dua korban luka parah telah menjalani visum dan laporan resmi atas nama Ahmad dan Bambang sudah masuk. Kasus ini kini ditangani penyidik Polres Jepara dan memasuki tahap penyelidikan.
Dugaan Penipuan dan Permainan Keuntungan
Informasi yang beredar di lapangan menyebut adanya dugaan bahwa pemegang motor mencoba mengambil keuntungan tambahan dari proses penebusan. Ada kabar bahwa motor berusaha dijual kembali atau pelaku ingin menarik keuntungan sekitar Rp1,5 juta dari transaksi tersebut.
Selain itu, muncul dugaan keterlibatan oknum depkolektor, kelompok raiders, serta ormas dari wilayah Kudus dalam aksi pengeroyokan tersebut. Hal ini memunculkan pertanyaan besar:
Mengapa persoalan gadai motor antar individu bisa menyeret kelompok luar hingga depkolektor dari daerah lain?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Grib Jaya belum menerima klarifikasi apa pun dari pelaku maupun pihak pemegang motor.
Fenomena Kekerasan Terkait Gadai Motor
Kasus ini menambah panjang deretan konflik terkait praktik gadai kendaraan tanpa aturan jelas dan potensi penagihan liar yang sering terjadi di berbagai daerah. Banyak kasus serupa yang muncul, namun hanya sedikit korban yang berani melapor ke kepolisian.
Proses penyelidikan oleh Polres Jepara diharapkan dapat mengungkap motif sebenarnya serta menindak para pelaku pengeroyokan.
( Sutarso )
Eksplorasi konten lain dari Relasi Publik
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





Komentar